Penguatan Kelembagaan dan Pembinaan Desa Wisata

Bertempat di Ruang Rapat lantai II Kantor Kapanewon Seyegan, Selasa (3/11) diadakan kegiatan pembinaan Desa Wisata. Kegiatan ini mengundang pelaku Desa Wisata, pengurus Bumdes, Kamituwo dari wilayah Kapanewon Seyegan.
Acara dibuka oleh Siti Baroroh, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Seyegan sebagai penanggung jawab kegiatan. Dalam pengantarnya, Siti Baroroh mengatakan bahwa ditengah pandemi ini, Kapanewon nasih mengagendakan kegiatan penguatan kelembagaan sebagai wujud dari fasilitasi yang diberikan kepada pelaku ekonomi di wilayah termasuk pelaku desa wisata.

Dengan status Kapanewon Seyegan sebagai lumbung pangan Kabupaten Sleman dimungkinkan sekali investor tidak banyak yang masuk. Di satu sisi status Seyegan sebagai wilayah dengan angka kemiskinan tertinggi se Kabupaten menjadikan kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas yang utama.
Siti Baroroh juga menambahkan dengan adanya pembangunan Jalan Tol yang melalui wilayah Seyegan, daya tarik komoditas yang ada di wilayah Seyegan juga difasilitasi untuk berjembang pula.
Secara resmi kegiatan dibuka oleh Panewu Anom, Djoko Muljanto, S.P yang dalam sambutannya mengatakan bahwa pengembangan desa wisata tidak terlepas dari 3 kompoben utama, yaitu Ekonomi, Promosi dan Potensi.
Ketiga komponen ini menjadi penentu dalam menjalankan wisata desa. Artinya desa tidak bisa berdiri sendiri dan ada kesempatan berbagi peran antara pemerintah dan masyarakat. Untuk menuangkan potensi yang dimiliki, desapun bisa bermimpi dulu, artinya pengurus desa wisata harus mempunyai keinginan kuat yang dapat diwujudkan. Mimpi ini nenjadi bagian yang penting bahkan faktor internal ini berkontribusi 60% dari keberhasilan, begitu ditambahkan Djoko Muljanto.

Memasuki acara inti, sebagai pemateri pertama adalah Teguh Rahmat Prihatno dari AELI (Asosiasi Experiental Learning Indonesia) yang memberikan materi tentang Pengembangan Desa Wisata berbasis Experiental Tourism.
Dalam paparannya, Teguh menyampaikan tentang tujuan pengembangan Desa wisata, produk pariwisata, indikator kunci pengembangan desa wisata, pengelolaan sumber daya pariwisata, pengelolaan pemasaran pariwisata, pengelolaan SDM, analisa SWOT dan branding produk.
Ada banyak pilihan yang bisa diambil dari produk pariwisata yakni wisata bahari, Ekowisata, kuliner, agro, spiritual, pedesaan ataupun petualangan. Sedangkan sumber daya pariwisata tersediri dari kekayaan alam dan kekayaan seni budaya.
Teguh nenambahkan dalam pengelolaan pemasaran pariwisata siperlukan diversifikasi pasar/peoduk, peningkatan muti pelayanan dan perpanjangan musim kunjungan. Sedangkan pengelolaan sumber daya manusia dengan kegiatan pelatihan dan pendampingan.

Sebagai pemateri kedua adalah Eka Priastana Putra dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman yang menekankan tentang manajemen desa wisata yang terkait dengan waktu, uang dan SDM. Tantangannya adalah masyarakat tidak akan terlibat ataupun bergerak bila belum merasakan manfaat.
Kata kuncinya adakah diperlukan ahli untuk memanage desa wisata.
Eka menambahkan bahwa Dinas pariwisata mempuntai wewenang untuk.evaluasi strategi antara lain tentang pelatihan yang belum efektif, keunikan belum ada dan hanya ada kegiatan outbond.
Sebagai bekal kepada pengurus desa wisata. Untuk menjalankan komitmen organisasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*